Langsung ke konten
Nonton1234
Poster Songko (2026)

Review Songko: Horor Folklor Minahasa yang Pelan Membara tapi Minim Teror

Songko (2026)

  • 23 April 2026
  • 1h 48m
  • Indonesian
  • R13 (Indonesia)
  • Streaming

Di Tomohon pada akhir 1980-an, seorang gadis kecil bernama Mikha melihat keluarganya diusir dari desa. Para tetangga menuduh ibu tirinya, Helsye, mampu berubah menjadi makhluk legendaris bernama Songko. Mikha pun berusaha membersihkan nama keluarganya dan memulihkan kehormatan mereka.

Bagikan:
Ulasan

Oleh Site Admin · · 3 menit baca

Kami menonton film ini sampai selesai sebelum menulis ulasan. Skor kami tidak dipengaruhi kerja sama afiliasi apa pun. Poster dan foto adalah milik pemegang hak cipta masing-masing.

Tonton Trailer

Songko — Official Trailer

Official Trailer

YouTube

6.0dari 10

Rating kami

  • Cerita6
  • Akting6.5
  • Visual6.5
  • Penyutradaraan6
  • Musik5.5

Cocok untuk: Penggemar sabar horor folk yang atmosferik

Cara kami memberi rating
Dalam artikel ini
  1. Review Songko: Ringkasan Cerita (Tanpa Spoiler)
  2. Kelebihan Songko
  3. Pemeran dan Akting Songko
  4. Kelemahan Songko
  5. Apakah Songko Layak Ditonton?
  6. Siapa yang Akan Menikmati Songko

Review Songko ini diawali dengan sebuah janji: film horor yang berakar pada legenda daerah Sulawesi Utara, yang jarang tampil di layar lebar. Sutradara Gerald Mamahit menukar kejutan keras dengan atmosfer dan ketegangan keluarga. Hasilnya adalah film yang tenang dan penuh renungan, yang bisa mengecewakan siapa pun yang mengharapkan teror tanpa henti.

Review Songko: Ringkasan Cerita (Tanpa Spoiler)

Plot Songko berlatar akhir 1980-an di Tomohon, Minahasa. Mikha (Annette Edoarda) hidup bersama keluarganya sampai warga desa menuduh ibu tirinya, Helsye, bisa berubah menjadi Songko dari cerita rakyat setempat. Tuduhan itu membuat seluruh keluarga diusir.

Dari situ, cerita menjadi perjuangan Mikha membersihkan nama keluarganya. Ia menyayangi ibu tirinya dan menolak menerima vonis desa. Ketegangan antara kesetiaan dan kecurigaan itulah yang menggerakkan babak pertama.

Film ini memadukan horor, thriller, dan misteri. Satu pertanyaan terus menggantung di setiap adegan: apakah warga desa benar, atau mereka hanya ketakutan?

Kelebihan Songko

Kekuatan terbesarnya adalah latarnya. Ulasan kritikus Indonesia menyoroti betapa baik film ini memanfaatkan lanskap alam Minahasa, dan suasana hijau berkabut memberi cerita rasa tempat yang kuat. Latar desa era 1980-an pun terasa hidup, bukan sekadar hiasan.

Pendekatan slow-burn Mamahit adalah nilai lebih lainnya. Alih-alih mengandalkan jumpscare, ia berfokus pada psikologi karakter dan bagaimana ketakutan menyebar di komunitas kecil. Kecurigaan, gosip, dan pengusiran menjadi sumber teror yang sesungguhnya.

Sudut pandang folklornya juga penting. Songko berasal dari legenda daerah, dan film ini memperkenalkannya kepada penonton yang lebih luas tanpa mengubahnya menjadi cerita monster yang generik. Bagi penonton yang menyukai misteri dengan sentuhan budaya, kesegaran itu berarti.

  • Latar dan legenda Sulawesi Utara yang khas

  • Atmosfer lebih diutamakan daripada kejutan murahan

  • Pusat emosi yang jelas lewat ikatan Mikha dengan ibu tirinya

Pemeran dan Akting Songko

Jajaran pemeran Songko dipimpin Annette Edoarda sebagai Mikha, yang membawa cerita sebagai gadis tangguh menghadapi desa yang memusuhinya. Imelda Therinne memerankan Helsye, ibu tiri yang menjadi pusat tuduhan, dan peran ini bergantung pada kemampuan membuat penonton ragu harus percaya pada apa.

Fergie Brittany tampil sebagai Lina, Tegar Satrya sebagai Ekel, dan Priscilla Raintung sebagai Ester. Iskak Khivano melengkapi jajaran pemeran yang tercantum. Film ini bertumpu pada dinamika keluarga, sehingga kekompakan ansambel lebih penting daripada satu adegan menakutkan mana pun.

Naskahnya, yang ditulis Mamahit dan Salsa Wahyudi, memberi ruang bagi para pemain untuk memerankan adegan yang tenang dan tegang. Itu cocok dengan tempo lambatnya, meski menuntut para pemain membawa banyak hal lewat tatapan dan keheningan.

Kelemahan Songko

Keluhan utamanya adalah soal keseimbangan. Salah satu ulasan Indonesia menilai film ini lebih terasa seperti drama keluarga berbalut horor, dan kritik itu cukup adil. Penonton yang datang demi teror makhluk mungkin harus menunggu lama.

Kritikus lain mencatat bahwa film ini masih malu-malu menghadirkan jumpscare yang intens, padahal punya ruang untuk unsur drama dan thriller yang lebih luas. Pembangunan yang lambat memang disengaja, tetapi ganjarannya mungkin terasa terlalu terkekang bagi sebagian orang.

Respons kritikus sejauh ini masih minim dan beragam. Skor awal di situs-situs Indonesia berada di kisaran menengah ke bawah, dari rating 2 dari 5 di satu halaman hingga skor kritikus 4,5 di halaman lain, meski masing-masing berdasar sampel yang sangat kecil. Anggaplah itu sebagai sinyal kasar, bukan vonis.

Apakah Songko Layak Ditonton?

Songko layak ditonton jika Anda menyukai horor folk yang sabar dan atmosferik serta penasaran dengan legenda daerah Indonesia. Film ini kurang memuaskan jika Anda menginginkan film monster atau rentetan teror.

Nilai film ini terletak pada latarnya, inti emosionalnya, dan kesediaannya memperlakukan mitos lokal dengan serius. Kelemahannya adalah pendekatan yang hati-hati terhadap genre yang diusungnya. Dengan durasi 108 menit, filmnya bergerak stabil, bukan cepat.

Tanggal rilis Songko di Indonesia adalah 23 April 2026. Untuk informasi latar film ini, halaman TMDB-nya bisa jadi titik awal yang berguna. Jika Anda menyukai nuansa seram pedesaan seperti ini, review kami tentang Hasut cocok sebagai bacaan pendamping, dan Anda juga bisa menjelajahi lebih banyak review thriller lainnya.

Siapa yang Akan Menikmati Songko

  • Penggemar horor folk slow-burn yang menghargai suasana ketimbang jumpscare

  • Penonton yang penasaran dengan budaya Sulawesi Utara dan Minahasa

  • Penonton yang menyukai drama keluarga berbalut sentuhan misteri

Kelebihan

  • Latar dan legenda Minahasa yang khas
  • Nuansa slow-burn yang atmosferik
  • Inti emosional kuat lewat hubungan dengan ibu tiri

Kekurangan

  • Sedikit teror sungguhan untuk sebuah film horor
  • Terkadang terasa seperti drama keluarga
  • Tempo yang hati-hati bisa menguji kesabaran

Kesimpulan Kami

Songko adalah horor berlatar budaya lokal yang kelam dan lebih mengutamakan karakter serta lanskap ketimbang kejutan. Penonton yang sabar akan menemukan sesuatu yang segar; pencari teror mungkin akan merasa kurang.

Pemeran & Kru

Foto: TMDB, Vectorized by Mars1515323 / Public domain via Wikimedia Commons

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan Songko dirilis?

Songko (2026) dirilis di bioskop pada 23 April 2026.

Siapa sutradara Songko?

Songko (2026) disutradarai oleh Gerald Mamahit.

Siapa saja pemeran Songko?

Pemeran utamanya antara lain Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satrya, dan Iskak Khivano.

Berapa durasi Songko?

Songko (2026) berdurasi 108 menit (1j 48m).

Apa rating usia Songko?

Songko (2026) berating R13 (Indonesia).

Di mana saya bisa menonton Songko?

Ketersediaan streaming berbeda di tiap wilayah — lihat kotak Where to Watch untuk pilihan terkini.

Apakah Songko berdasarkan kisah nyata?

Tidak, film ini berdasarkan legenda daerah dari Sulawesi Utara. Latar filmnya adalah Tomohon, Minahasa, pada akhir 1980-an.

Apakah Songko film horor yang penuh jumpscare?

Tidak juga. Para kritikus menyebut film ini memakai pendekatan slow-burn yang berfokus pada psikologi karakter dan malu-malu menghadirkan jumpscare yang intens.

Siapa saja bintang Songko?

Annette Edoarda memerankan Mikha dan Imelda Therinne memerankan ibu tirinya, Helsye. Fergie Brittany, Tegar Satrya, dan Priscilla Raintung juga tampil.

S

Ditulis oleh

Site Admin

Site Admin has been writing about film for over a decade, with a soft spot for big-screen science fiction and character-driven dramas.

Laporkan kesalahan

Jelajahi Lainnya

Lihat semua